Suatu hari, ketika saya berenang sambil iseng-iseng pasang spanduk
"Karuhun" ada ibu pedagang kue yang menghampiri, tertarik dengan keripik
setan yang dijual. Bukan untuk dibeli tentu saja, tapi untuk dijual
lagi.
"Wah, di sini belum ada nih. Bisa dikelilingin (dijual keliling)" ujarnya. "Bisa tanpa modal kan ya?" tanyanya lagi.
Cara
menjaring reseller memang ada beberapa metode. Bisa beli putus,
konsinyasi (beli dulu, tapi kalau ada sisa bisa dikembalikan), bisa
dropship (kalau ada pesanan baru ambil barangnya). Tapi yang
memungkinkan untuk pemodal yang sedikit tentu saja jualan tanpa modal,
alias barang "dipinjam" dahulu, baru nanti disetorkan. Masalahnya, butuh
kepercayaan yang lebih antara pemasok barang dan penjual. Apalagi saya
nggak rutin ketemu beliau dan kolam renang. Lalu bagaimana kalau nanti
ditipu? Berhubung untung lebih sedikit dari modal. Kalau barangnya
hilang, habislah.
Tapi di mata si ibu ini, saya lihat semangat.
Lupakan resiko kerugian yang besarnya ngga sebanding dengan keuntungan
kerja sama. Semangat, adalah hal yang langka. Semangat berusaha yang
dimiliki oleh kaum menengah ke bawah, juga hal yang jauh lebih langka.
Maka tentu saja saat itu saya mengangguk, "Kalau ibu mau, saya percaya,
ibu bawa saja dulu barangnya."
Padahal waktu itu nomer ponsel pun dia ngga punya.
***
Bertemu
dengan ibu Yuli masih di kolam renang yang sama, di waktu berbeda. Ia
sedang asyik mengolah sampah-sampah sachet Pop Ice. Dengan telaten
dibersihkan lalu dilipat-lipat. Saya yang menyukai prakarya, tentu saja
tertarik mendekat. Bukan hal baru sebenarnya, banyak orang mulai mendaur
sampah untuk dijadikan tas, dompet, dll. Tapi yang menarik, ibu ini
seorang diri melakukannya di tempat yang tidak umum. "Sedang apa bu?
Boleh ikut ya?" Sehabis bilas saya segera bergabung menyusun
lipatan-lipatan dari sampah tersebut.
"Masih belajar ini dek, ada
pelatihan di RT." Katanya. Rupanya ada pelatihan-pelatihan gratis yang
diberikan untuk warga sekitar sini. "Lumayan dek, jadi ada kerjaan.
Selain ini ada juga cara bikin pupuk kompos dari sisa-sisa wortel. Ada
juga belajar ngaji, tapi yang bener." ujarnya lagi.
Animo penduduk
tampaknya cukup tinggi. Kata bu Yuli, peserta selalu banyak, karena
memang kebanyakan warga di sekitar situ menganggur. Terutama ibu-ibu
rumah tangga.
"Bapak kerja apa bu?" Itu saya yang penasaran.
"Bapak
ya ngojek dek. Dulu pernah ditawari kerja di UI sama sodaranya, tapi
dia nolak. Biasalah ga mau hidup diatur orang. Baru sekarang nyesel."
Mengalirlah
obrolan sambil kami melakukan aktivitas yang sama. Lipatan si ibu cukup
rapih. Saya (yang ngakunya) si penelusur bakat serta merta mulai
menelisik bakat si ibu.
"Ibu pernah coba-coba dagang?"
"Wah gak bakat saya dek. Anu.. itu dulu pernah jual baju, tapi diutangin. Gak bisa saya nagihnya, nggak enak."
"Kalau jahit bu?"
"Kalau jahit dulu saya pernah di konveksi. Kalau sendiri, saya itu kurang telaten."
Kalimat
terakhirnya terlihat bertolak belakang dengan hasil prakarya yang rapi
dibuatnya. Setahu saya siih, bikin origami burung bangau aja ngga semua
orang bisa rapi, walau cara yang diajarkan sama, gurunya sama. Dan dari
cerita, si ibu ini memang mudah mengerti diajarkan prakarya. Dan (ini
yang hebat) tanpa malas langsung dipraktikkan. Gak seperti saya.
"Ibu-ibu yang lain juga seperti ini bu?"
"Ya iya, ada yang suka, bikin juga.."
Wah,
di kepala saya menari-nari ide untuk memberdayakan ibu-ibu tersebut.
Lama-lama tingkah saya macam ibu-ibu PKK memang. Tapi, begini. Mencari
kerja itu sulit, tetapi sesungguhnya mencari pekerja itu juga sama
sulitnya. Dan di depan saya, ada sosok yang mau bekerja, punya semangat,
tapi memang belum dijodohkan dengan kesempatan yang tepat.
***
Sejak
lama, saya selalu salut dengan orang-orang yang berbisnis, dengan
mensejahterakan lingkungan masyarakat bawah. Saya tertarik dengan home industry. Saya dibesarkan juga dalam home industry manisan pala yang waktu itu dikembangkan ibu saya.
Sebut
saja, teman saya, Nadichi. Beliau memasarkan macaroni macamaca yang
diproduksi oleh warga. Dengan manajemen yang baik Nadichi membuat order
maca-maca berkembang pesat. Bayangkan berapa orang yang terlibat dan
hidup dari sana. Belum lagi kehidupan para Reseller.
Teman saya
yang lain, Inka melalui mamainka, juga mengembangkan masyarakat setempat
yang kaya akan bordirnya. Dengan relasi yang luas, pesanan semakin
banyak datang dari Jakarta.
Untuk yang level besar, coba kita
lirik perusahaan-perusahaan keripik yang lagi hip macam Karuhun dan
Maicih. Waah hampir semua orang bisa memperoleh rupiah dari sana.
***
Hmm.. Pemberdayaan masyarakat. Kata-kata itu menari indah di pikiran saya. Bagaimana denganmu? :)
