11.11.09

Taman kanak-kanak di kampus metropolis.

Ini akan menjadi agak kasar, perlukah saya meminta maaf di awal? Ah, rasanya tidak. Tapi rasanya perlu juga, terserahmu lah.

Begini, alkisah ada sebuah taman bermain kanak-kanak di suatu kampus metropolis. Taman kanak-kanak ini berbeda dari kegiatan lainnya, sebut saja kegiatan lainnya itu politik kampus tahu kucing. Taman kanak-kanak ini menyenangkan, kegiatannya mudah:
bermain di taman.

Akhirnya, saya masuk ke sana, mendaftar ke taman kanak-kanak yang tersohor ini. Sebelum masuk, saya harus mengikuti rangkaiannya terlebih dahulu, ada bermain ayunan, ada panjat tali, ada main perahu-perahuan, ada juga masuk ke dalam lorong-lorong untuk menikmati dunia lain. Tapi, diluar itu semua, kami: saya dan pendaftar lainnya, harus melakukannya bersama-sama sehingga terbentuklah rasa cinta.

Saya cinta mereka. Mereka cinta sayakah, saya tidak tahu. Salah satu guru di taman kanak-kanak itu akhirnya bertanya pada saya apa yang saya cari di sana, saya jawab: rumah. Saya mencari rumah di sini. Taman kanak-kanak akan menjadi rumah buat saya. Dan waktu pun berlalu. Dan memang begitu.

Sebut saya murid yang nakal, sering membolos, kadang datang tak diundang, kadang pergi kalau dibutuhkan. Sesuka hati saya bermain. Tapi, saya tetap selalu mengamati. Tentu saja, bagaimanapun, ini kan rumah saya.

Suatu hari, saya muak. Saya merasa anak-anak di taman kanak-kanak ini terlalu dewasa. Tidak lagi seperti anak kecil yang melepas topengnya. Lihat itu si Ani yang dipikirkan hanya Ego saja. Lihat itu si Anu yang dipikirkan hanya kesalahan temannya saja. Lihat itu si Ino hanya facebook-an saja. Lihat itu si Ina yang dipikirkan hanya intrik saja.

Berapa orang di taman ini yang tertawa dari hati? Beberapa tenggelam dengan pikirannya, dan khayalannya, dan mimpinya. Tidak ada apresiasi terhadap hal baik di sini. Atau ada, tapi saya hanya terlalu sering pergi? Tapi lalu, mengapa selalu ada bisik-bisik di belakang? Atau banyak murid yang bertingkah laku A karena ia ingin kelihatan A, bukan karena ia ingin bertingkah laku A. Tidak ada kebebasan lagi, bukan. Semua seolah membentuk opini publik. Hey, dimana keterbukaan?

Tidak tahulah, saya cinta rumah itu, tapi kadang berada di sana membuat saya penat. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Baru kemarin, baru sekali, saya mendengar kabar, ibu kampus metropolis tertarik pada taman kanak-kanak ini dan meminta menjadi salah satu murid di sini. Loh, ibu kan sudah tua? tanya yang lain. Makanya, tidak apa-apa ya, jadi tidak udah ikut serangkaian acara anak-anak dulu ya untuk jadi murid? kata si ibu kampus.

Mungkin ibu kampus itu terlalu hebat, terlalu menguntungkan di mata taman kanak-kanak dan pendirinya, sehingga dari suatu rapat panjang, diterimalah ibu kampus itu menjadi murid spesial. Untungnya apa? pasti dia menguntungkan. Untung besar. Entahlah. Saya tidak mengerti. Tidak tahu menahu.

Ibu kampus itu tahu tidak permainan legendaris kita? Belum, tidak perlu tahu. Lalu bagaimana Ibu kampus itu bisa merasa memiliki taman kanak-kanak ini, merasa ini rumahnya juga? Tidak perlu, yang penting dia menguntungkan. Bagaimana bisa, jika tidak ada ikatan? Sudahlah jangan banyak omong, pokoknya pasti dia menguntungkan.

Oh, ya selamat mencoba menunggangi, meski sesungguhnya begitu kabur siapa ditunggangi siapa.

Hey, mengapa lama-lama ini semua terdengar seperti politik kampus tahu kucing penuh intrik?
Benarkah ini masih taman kanak-kanak yang sama?

"Taman yang paling indah, hanya taman kami. 
Taman yang paling indah, hanya taman kami.
Tempat bermain, berteman banyak,
itulah taman kami taman kanak-kanak."

Maaf kalau terdengar agak kasar. Tapi perlukah saya meminta maaf? Rasanya tidak. Anggap saja ini fiktif, meski saya senang kamu dan kamu membacanya.

6.11.09

paling beruntung di dunia.

I.
Kamu menemukannya pertama kali di suatu tempat, jauh bertahun-tahun yang lalu. melihatnya seakan sudah pernah mengenalnya, atau membuatmu merasa harus mengenalnya. dan benar, lalu kalian berkenalan. berjalan beriringan, tidak saling mendahului, tidak selalu minta didorong, tapi beriringan, bersisian.

Kalian tidak saling tergenggam, tapi kalian selalu tahu perasaan itu: Perasaan Terlengkapi.

Semakin hari semakin saling mengenal. semakin ada hal baru yang membuat senang. kedua keluarga saling berkabar, saling bertukar cerita tentang masa kecil kalian.

Semua bahagia, dan berkata:
"Selamat nak, kamu menemukan teman hidup yang tepat."

II.
Kamu menginginkannya pertama kali di suatu waktu, jauh sebelum kamu kuliah dulu. kamu tahu kamu akan menjadikannya mimpimu, sesuatu yang akan kamu capai di kemudian hari. dan benar, setelah itu kamu lalu menekuni apa yang menjadi mimpimu.

Setiap pagi, kamu merasa gembira, merasa tertantang oleh dunia. Ah, saya akan melakukan ini. Oh, saya pasti melakukan itu. ide-idemu meloncat lebih tinggi, bahkan kamu pun kagum. Kagum dengan apa yang berterbangan di kepalamu.

Semua sayang padamu, dan berkata:
"Selamat nak, kamu sangat cocok berada di sini."

***
Keberuntungan I mungkin kebetulan dan murni jadi pekerjaan Tuhan, tapi Keberuntungan II selalu bisa dicapai. Semoga pada suatu hari, saya bisa menjadikan siapapun merasa paling beruntung di dunia.
Doakan saja.

4.11.09

keluarga bahagia.

awalnya semua berjalan biasa. satu sama lain tertawa bahagia. oh, perkumpulan keluarga jadi satu yang dinantikan. tapi lalu ada duka. ada cinta. ada paksa. ada hati. ada sakit. ada restu. ada penolakan. ada kekerashatian. ada kehatihatian. ada bicara. ada bicara di belakang. ada miskomunikasi. ada apa? ada konflik di sini, teman.

satu demi satu saling memunggungi.
tidak lagikah kita di jalan yang sama?
rasa saling sayang itu membumbung tinggi.
tapi lalu apa yang terjadi?

seperti awan yang meninggi, menggulung, lalu menghujan.
semakin deras di mata dan hati kami.
ketidakrelaan. kepasrahan. kekecewaan. keharusan. keharuan.

awalnya semua berjalan biasa. tapi lalu menjadi luar binasa.
masih perlukah kita berdiri menjadi tamu satu sama lain?

22.10.09

man is being and becoming .... good.

You think you know who you are? You have no idea. 
-Crash, officer Ryan-


Ayah saya selalu percaya, hal-hal baik yang dilakukan akan membawanya kembali pada hal baik. Karma itu ada. Itulah yang membuat dunia ini seimbang. Begitu katanya.

Seumur hidupnya yang saya kenal, dia selalu menjadi manusia yang baik, pekerja yang tekun, saking seriusnya sampai merasa tidak enak hati dan ujung-ujungnya stress. Dia selalu bersikap baik, hingga entah berapa kali menjadi korban penipuan orang yang memanfaatkan kebaikan dirinya. Seingat saya, dia tidak segan menghentikan mobilnya di jalan raya kota padat dimana orang saling tak mengenal atau mengenal tapi tak saling peduli untuk membantu mendorong angkot yang mogok.

Ia selalu mengomentari banyak hal, ribet, kalau kata saya. Ia senang membantu orang memarkirkan mobilnya sampai ada yang menganggap tukang parkir. Ia senang membantu, dan menyapa setiap orang yang ia kenal maupun tidak kenal. Tukang kebun, satpam, tukang sate, siapa saja. Coba biarkan ayah saya berdiri di tengah keramaian dalam beberapa menit dia pasti sudah berdiri bercuap-cuap dengan pramuniaga atau siapapun yang kebetulan sedang sial mendapat ocehannya. Dia selalu mau tahu. Selalu tertarik pada hal baru. Itulah mengapa dia ngotot sekali mau membelikan mobil buatan anak STM yang dibacanya di Internet.

Ah, abah. Lieur, kata saya. SKSD, kata si opay.

Kadang saya suka merasukinya untuk jangan terlalu baik. Orang baik gampang ditindas orang lain, itu saya bilang. Tapi tetap saja dia begitu. Pernah ada masanya dia lelah menjadi baik, tapi toh ujung-ujungnya tetap saja dia merasa nyaman menjadi baik.

Kenapa saya jadi bicarakan ayah saya?
Begini teman, saya melihat dia sebagai sosok manusia. Manusia adalah makhluk yang terus berubah, itu kata Pak Akhyar, dosen filsafat yang saya gemari tapi sayangnya ia pergi tidak tahan mengajar banyak kelas yang membuat saya berjodoh kembali dengan Atenism. Mereka berubah seumur hidup, bahasa saya, manusia itu cepat bosan. Yang baik pun bisa bosan menjadi baik. Yang jahat bisa juga bosan menjadi jahat. Hey, ini betulan. Ayah saya juga manusia. Ia juga pastinya pernah merasa bosan menjadi baik. Kita semua begitu, bukan?

Tapi, kadang-kadang saya berfikir bahwa manusia, pada dasarnya, adalah baik. Titik. Mereka berkembang, kesana kemari, mencari jatidiri, tertawa, berteman, menikung di belakang, saling berkhianat, merugikan orang lain, mencaci, kecewa, balas dendam, tapi lalu apa? Semua jalan tersebut membawanya kembali pada kebaikan. Ada yang berontak, lebih terkenal dengan kata sesal, yang menuntun kita kembali ke satu hal: kebaikan.

Ketika atenism bertanya melalui film Crash, apa itu hakikat manusia?
Maka daripada saya berkeluh kesah "Oh-biarkan-saya-menikmati-film-bagus-ini-tanpa-pertanyaan-macam-itu!" lebih baik saya mencoba menjawabnya bukan?

So, here we go. Jika saya boleh mencoba menjawab, hakikat manusia mungkin saja adalah hal yang selama ini berulang kali dicoba oleh ayah saya, yang bukan mahasiswa S2 dan tidak pernah belajar filsafat. Ayah saya yang hanya lulusan SMA tapi hati dan pikirannya seluas telaga.

Melalui dia, mungkin saja jawaban atas hakikat manusia itu adalah menjadi baik. Man is being and becoming good.
.
.
.
Kalau menurut kamu, hakikat manusia itu apa?

15.10.09

mimpi


apa yang coba dikatakan oleh mimpi,
ketika kita terbangun dini hari dengan air mata,
yang tergenang?



satu yang pasti, realita yang masih baik-baik saja.

"terima kasih sudah diingatkan."
"untung cuma mimpi."
"semoga belum terlambat."

  ada saatnya mimpi pun bisa jadi nyata.
semoga jika saat itu tiba,
sudah tidak ada lagi sesal di langit esok.

13.9.09

Do I Need Therapy?

Oke. Begini kondisinya. Setelah saya menjadi mahasiswa Psikologi, banyak sekali yang bertanya-tanya,

"saya kenapa ya?
"saya normal ga sih?"
"jangan-jangan saya gila?
"sepertinya saya harus ke psikolog/psikiater deh?".

Hmm.. hal tersulit adalah saya harus memberitahu mereka: hey, i am not that psychologist. Tentu saja tanpa mengurangi rasa peduli pada mereka. Kenapa saya berkata seperti itu? Mungkin karena pada dasarnya saya juga punya pertanyaan yang sama. Hahaha. Dan saya yakin anda semua juga begitu. Ya kan? ya kan??

Oleh karena itu, bagi kalian yang selalu bertanya-tanya, kebingungan, kepikiran, kebawa mimpi, dan lain-lain, ini ada alternatif lain selain mengikuti kuis-kuis dari facebook. Sebuah self-test dari Psychology Today: Do I Need Therapy Test? (Silahkan di KLIK).

Jawablah dengan sejujur mungkin dan jangan mengada-ngada. Bukalah kamus jika diperlukan. Saya sih berharap Indonesia punya web seperti ini juga ya.. Karena penggunaan psikolog di Indonesia masih belum begitu "biasa". Atau, sepertinya saya harus menjalankan rencana masa lalu dengan si kuphi untuk membentuk broker Psikolog?

Well, kita lihat saja nanti. :)

Semoga cepat normal ya, teman-teman!

11.9.09

Puasa Lala

Sudah hampir seminggu ini saya tidak puasa. Lala, keponakan kecil saya kaget waktu dengan santainya saya makan dan minum di rumah, di depannya pula.

"Teh Adin, kok ga puasa??" tanyanya tidak rela.

"Iya, Bosen kali puasa mulu.." jawab saya asal. Sebenernya bukan karena bosan. Tapi kamu tahulaaah kenapa.

Hari itu, mungkin hari yang sial bagi lala yang sedang bermain ke rumah ayah dan ibu saya. Sial, karena hari itu ada saya yang masih tinggal di rumah yang sama, belum menikah, dan belum bekerja. Sial, karena hari itu dia sudah mulai belajar puasa dengan lancar sampai khatam untuk pertama kalinya. Sial, karena hari itu saya sedang tidak puasa dan malah makan minum sesuka hatinya.

"kumi, mau kue?" itu tawar saya yang lagi baik pada adiknya Lala yang tidak berpuasa. Kumi ambil kue dengan senang hati.
"Rayan?" Rayan adiknya Kumi yang masih baru bisa lari. Rayan ambil juga kue dengan senang hati. Tiba pada Lala.

"Lala, mau?" goda saya. Itu si lala malah mesem-mesem dilema.
"Nggak ah..." katanya lesu.

Ya sudah maka saya ajak Lala dan Kumi jalan-jalan di kota Bogor yang panas menuju toko buku Gramedia yang adem. Lalu setelahnya kami beli minuman dingin di Cafe Seberang. Tentu saja dibungkus alias ditenteng, kan, Lala puasa.

"Kum, mau ya?" itu kata saya ke Milo yang dibeli Kumi. Kumi kan tidak puasa jadi bisa kita habiskan bersama-sama. Tapi minum Lala yang berwarna oranye terang sangat menggiurkan. Jadi saya minta juga.

"Lala, mau buka aja?" itu saya tawari karena kasian, karena dia kan masih kecil, karena hari itu panas dan melelahkan, karena saya tau puasa dengan memegang satu gelas es jeruk dingin segar adalah godaan tersulit.

Tapi Lala tetap menggeleng. Hingga beberapa jam kemudian ketika waktu buka tiba, dan es sudah meleleh menuju jeruk, membuat itu minuman tidak segar lagi. Bahkan, tidak dingin lagi. Tapi Lala berhasil khatam puasa lagi di hari itu.

Oh lala, selamat karena anda berhasil di hari itu. Membuat saya merasa perlu memberi applause, atau A plus ketika nanti saya jadi profesor dan kamu sudah jadi mahasiswa.

Oh lala, maafkan saya yang seolah tidak tahu bertoleransi. Bukan begitu maksud saya. Saya hanya ingin menunjukkan padamu, nak, bahwa iman itu bukan paksaan. Bahwa ketetapan hati muncul sendiri. Bahwa taat kepada perintahNya akan menjadi indah, jika itu memang pilihan kita sendiri.

Karena saya takut, nanti besar sedikit kamu tidak terbiasa menghadapi dunia. Melihat teman-teman smpmu makan di warung kopi, kamu ikut. Melihat teman-teman smamu nongkrong di kafegaul, kamu ikut. Melihat teman-teman kuliahmu di luar negeri menganggap puasa itu hal yang aneh, maka kamu tidak ikut puasa satu bulan.

Karena lingkunganmu nanti tidak mudah ditebak, dan lingkunganmu nanti tidak selamanya baik seperti SD Islam yang kamu masuki hari ini.

Maka saya biasakan begitu agar kamu dapat berdiri atas keputusan dirimu sendiri, dan bukan plin plan karena terpengaruh lingkungan kamu berada nanti. Semoga kamu mengerti.


Selamat 10 hari terakhir, teman-teman.
:D