2.5.12

Wishlist

Suatu hari, ketika saya berenang sambil iseng-iseng pasang spanduk "Karuhun" ada ibu pedagang kue yang menghampiri, tertarik dengan keripik setan yang dijual. Bukan untuk dibeli tentu saja, tapi untuk dijual lagi.
"Wah, di sini belum ada nih. Bisa dikelilingin (dijual keliling)" ujarnya. "Bisa tanpa modal kan ya?" tanyanya lagi.

Cara menjaring reseller memang ada beberapa metode. Bisa beli putus, konsinyasi (beli dulu, tapi kalau ada sisa bisa dikembalikan), bisa dropship (kalau ada pesanan baru ambil barangnya). Tapi yang memungkinkan untuk pemodal yang sedikit tentu saja jualan tanpa modal, alias barang "dipinjam" dahulu, baru nanti disetorkan. Masalahnya, butuh kepercayaan yang lebih antara pemasok barang dan penjual. Apalagi saya nggak rutin ketemu beliau dan kolam renang. Lalu bagaimana kalau nanti ditipu? Berhubung untung lebih sedikit dari modal. Kalau barangnya hilang, habislah.

Tapi di mata si ibu ini, saya lihat semangat. Lupakan resiko kerugian yang besarnya ngga sebanding dengan keuntungan kerja sama. Semangat, adalah hal yang langka. Semangat berusaha yang dimiliki oleh kaum menengah ke bawah, juga hal yang jauh lebih langka. Maka tentu saja saat itu saya mengangguk, "Kalau ibu mau, saya percaya, ibu bawa saja dulu barangnya."

Padahal waktu itu nomer ponsel pun dia ngga punya.

***

Bertemu dengan ibu Yuli masih di kolam renang yang sama, di waktu berbeda. Ia sedang asyik mengolah sampah-sampah sachet Pop Ice. Dengan telaten dibersihkan lalu dilipat-lipat. Saya yang menyukai prakarya, tentu saja tertarik mendekat. Bukan hal baru sebenarnya, banyak orang mulai mendaur sampah untuk dijadikan tas, dompet, dll. Tapi yang menarik, ibu ini seorang diri melakukannya di tempat yang tidak umum. "Sedang apa bu? Boleh ikut ya?" Sehabis bilas saya segera bergabung menyusun lipatan-lipatan dari sampah tersebut.

"Masih belajar ini dek, ada pelatihan di RT." Katanya. Rupanya ada pelatihan-pelatihan gratis yang diberikan untuk warga sekitar sini. "Lumayan dek, jadi ada kerjaan. Selain ini ada juga cara bikin pupuk kompos dari sisa-sisa wortel. Ada juga belajar ngaji, tapi yang bener." ujarnya lagi.

Animo penduduk tampaknya cukup tinggi. Kata bu Yuli, peserta selalu banyak, karena memang kebanyakan warga di sekitar situ menganggur. Terutama ibu-ibu rumah tangga.

"Bapak kerja apa bu?" Itu saya yang penasaran.
 "Bapak ya ngojek dek. Dulu pernah ditawari kerja di UI sama sodaranya, tapi dia nolak. Biasalah ga mau hidup diatur orang. Baru sekarang nyesel."

Mengalirlah obrolan sambil kami melakukan aktivitas yang sama. Lipatan si ibu cukup rapih. Saya (yang ngakunya) si penelusur bakat serta merta mulai menelisik bakat si ibu.

"Ibu pernah coba-coba dagang?"
 "Wah gak bakat saya dek. Anu.. itu dulu pernah jual baju, tapi diutangin. Gak bisa saya nagihnya, nggak enak."
 "Kalau jahit bu?"
"Kalau jahit dulu saya pernah di konveksi. Kalau sendiri, saya itu kurang telaten."

Kalimat terakhirnya terlihat bertolak belakang dengan hasil prakarya yang rapi dibuatnya. Setahu saya siih, bikin origami burung bangau aja ngga semua orang bisa rapi, walau cara yang diajarkan sama, gurunya sama. Dan dari cerita, si ibu ini memang mudah mengerti diajarkan prakarya. Dan (ini yang hebat) tanpa malas langsung dipraktikkan. Gak seperti saya.

"Ibu-ibu yang lain juga seperti ini bu?"
"Ya iya, ada yang suka, bikin juga.."

Wah, di kepala saya menari-nari ide untuk memberdayakan ibu-ibu tersebut. Lama-lama tingkah saya macam ibu-ibu PKK memang. Tapi, begini. Mencari kerja itu sulit, tetapi sesungguhnya mencari pekerja itu juga sama sulitnya. Dan di depan saya, ada sosok yang mau bekerja, punya semangat, tapi memang belum dijodohkan dengan kesempatan yang tepat.

***

Sejak lama, saya selalu salut dengan orang-orang yang berbisnis, dengan mensejahterakan lingkungan masyarakat bawah. Saya tertarik dengan home industry. Saya dibesarkan juga dalam home industry manisan pala yang waktu itu dikembangkan ibu saya.

Sebut saja, teman saya, Nadichi. Beliau memasarkan macaroni macamaca yang diproduksi oleh warga. Dengan manajemen yang baik Nadichi membuat order maca-maca berkembang pesat. Bayangkan berapa orang yang terlibat dan hidup dari sana. Belum lagi kehidupan para Reseller.

Teman saya yang lain, Inka melalui mamainka, juga mengembangkan masyarakat setempat yang kaya akan bordirnya. Dengan relasi yang luas, pesanan semakin banyak datang dari Jakarta.

Untuk yang level besar, coba kita lirik perusahaan-perusahaan keripik yang lagi hip macam Karuhun dan Maicih. Waah hampir semua orang bisa memperoleh rupiah dari sana.

***

Hmm.. Pemberdayaan masyarakat. Kata-kata itu menari indah di pikiran saya. Bagaimana denganmu? :)

24.9.11

Lotere yang (hampir) dimenangkan.

Hai,

Dalam hidup, kesedihan adalah hal yang biasa seperti juga kesenangan. Tapi bagaimana jika kesenangan bekerja sama dengan semesta untuk menciptakan kesedihan yang tidak biasa? Bagaimana caranya?

Pada suatu pagi, kesenangan menggodaku. Dengan pesonanya ia berkata, "aku ini milikmu, maka kemarilah." Meski begitu, aku berusaha untuk tetap tenang, tetap kalem, dan bermuka datar. Hati boleh menggebu, tetapi pikiran harus tetap jernih dan ekspresi harus tetap pandai menyimpan rahasia.

Mengapa?

Karena sesuatu yang lebih besar darimu pandai sekali menggoda. Ah, tapi sayangnya sesuatu itu juga tahu apa yang diam-diam disembunyikan oleh hatimu. Mungkin Dia tahu ada saya di sini yang sedang bukan kepalang senang. Yang sedang mencari-cari kata yang artinya lebih dari kata bahagia.

Yang sedang membuncah.

Maka lalu kesenangan itu datang untuk menggodaku. Yah, kamu tahulah ada dua tipe senang di dunia ini. Senang yang untuk dimiliki dan senang yang untuk nyaris dimiliki. Senang yang kedua ini seolah ada tulisan di kemasannya: "Lihat boleh, Pegang jangan." Si tipe senang yang menyebalkan. Lalu untuk apa kamu ada, heh? Ah ya, tentu saja untuk berkolaborasi dengan semesta menghasilkan kesedihan yang baru.

Maka mungkin kamu bertanya-tanya. Kenapa banyak sekali kesenangan yang nyaris dimiliki di dunia ini? Seperti misalnya temanmu mau mendapat beasiswa ke luar negeri, sudah lulus seleksinya dengan susah payah, tetapi di hari mau keberangkatan ternyata hasil tes medis tidak mendukung. Seperti misalnya pasangan di dekat rumahmu yang kesulitan memiliki anak, lalu dikabarkan mengandung, tetapi di suatu sore dikabarkan kembali mengalami keguguran. Seperti misalnya.. kamu bisa memberi contoh baru untukku?

Jostein Gaarder pernah membuat cuplikan kata-kata ini:
"Aku sudah memenangkan lotere bernilai sejuta, hingga mereka menemukan sesuatu yang keliru pada tiket itu & hadiahnya tidak bisa dibayarkan, setidaknya tidak segera."

Apa yang menarik dari sebuah lotere? Pada awalnya semua orang bisa hidup tanpa lotere. Kemarin dulu hidupmu baik-baik saja, tetapi ketika dikabarkan kau memenangkan lotere, tapi tidak jadi, mengapa hidupmu jadi berbeda?

Kesenangan yang bekerja sama dengan kesedihan beraktivitas melalui penanaman harapan yang tentu saja hasil akhir yang mereka harapkan adalah kekecewaan. Kecewa. Tahukah kamu apa itu kecewa? Bisa jadi kecewa adalah bentukan kuadrat dari rasa sedih dimana pada akhirnya kamu tahu apa yang kamu mau tetapi kamu gak tau apa kamu bisa punya yang kamu mau itu atau nggak.

Tapi, untungnya, kecewa bukan satu-satunya hasil akhir, karena ada satu pintu darurat yang bisa menyelamatkanmu dari rasa ini. Pada suatu masa, akhirnya manusia akan tersadar kalau segala sesuatunya di dunia sudah dituliskan. Hidup itu (bukan) pilihan. Mau kemanapun mereka memilih, pada akhirnya akan bermuara pada pilihan yang sudah ditetapkan.

Jadi, si manusia yang tidak punya kuasa ini hanya bisa mengikuti alirannya, bermain dalam aturan mainnya, tanpa punya pilihan lain. Do we really have a choice? I dont think so.

Maka, alih-alih merasa kecewa, mengapa kita tidak menghabiskan waktu di beranda sambil menyeduh teh atau kopi dan menantikan arahan syuting di episode selanjutnya? Mungkin, pada saat-saat seperti ini, ikhlas adalah satu-satunya pintu darurat yang kita punya sebagai manusia.

So, have a nice life, My dear..

Off.

19.6.11

Hari yang menarik.

Hari ini adalah hari yang menarik, karena pada akhirnya saya berani melakukan lompatan dalam hidup saya. Bukan menuju yang lebih baik atau yang lebih benar. Ini tentang berani melompat saja. Cukup jauh, sangat jauh.

Hari ini adalah hari yang menarik, ketika saya mendatangi suatu keluarga, berpamitan, dan benar-benar tersadarkan bahwa keluarga teman tumbuh saya ini adalah keluarga super mapan yang sangat super baik. Benar adanya, penilaian saya terhadap seseorang hampir tidak pernah salah.

Hari ini adalah hari yang menarik, karena saya menyadari waktu 8 tahun cukup lama untuk dibayar dengan sendu yang gak berhenti-berhenti. Sepanjang hari, sendu itu ada.

Hari ini adalah hari yang menarik, karena orang-orang di sekitar saya bertanya-tanya, jika keputusan saya bisa membuat saya begitu sedih, mengapa tetap dijalani? bertanya-tanya, apakah saya tidak terlalu terburu-buru? mereka yang mengenal saya tentunya tidak akan percaya bahwa saya benar-benar melakukan lompatan ini.

Hari ini adalah hari yang menarik, karena perihal saya melompat keluar dari lingkaran ini bukan disebabkan alasan-alasan berkaitan kelulusan, kemapanan, ketidakpedulian, dsb. Tidak ada alasan lain, selain keyakinan yang tiba-tiba datang, keyakinan yang membuat saya berani mengambil lompatan ini.

Bisa saja permainan ini saya teruskan dan kamipun menang. Tapi semalam saya berpikir, siapa tahu peran Tuhan dalam memilih jodoh itu seperti suasana di kelas, ketika dosen meminta kamu berpasangan mengerjakan tugas kelompok. Dosen kamu seketika teriak:
"Mau pilih pasangan sendiri atau dipilihiinn??"
Mereka yang memilih tim-nya sendiri bisa jadi tetap bersama sesuai pilihan mereka, yang menurut mereka terbaik, meskipun belum tentu terbaik. Sementara mereka yang meminta dipilihkan, tentu saja akan mendapatkan anggota tim yang paling baik menurut dosen.

Pada titik ini, seakan-akan tuhan saya sedang bertanya:
"Mau pilih jodoh sendiri, atau dipilihin?"
Menjawab pertanyaan itu, meskipun saya punya satu-satunya orang yang pernah saya mau, maka saya harus melepaskannya juga sambil memantapkan diri berkata:
"Dipilihin, Tuhan!"
Maka begitulah adanya hari yang menarik ini. Mendoakan selalu yang terbaik untuk teman tumbuh saya yang disana. Khawatir awalnya, namun kalau tetap khawatir terus saya malu. Malu pada Nabi Ibrahim yang bahkan ketika disuruh menyembelih anaknya saja ia percaya pada campur tangan Tuhan.

Bagaimana bisa saya mengkhawatirkan seseorang, padahal Tuhan juga pasti punya rencana tersendiri untuk dirinya? 

Maka itu saya mengembalikan semuanya pada langit. Memasrahkannya pada yang Maha Tahu. Seperti halnya semua orang tua yang berkata: "Kalau jodoh, nggak kemana..", dan semua anak muda yang berkata: "Kalau nggak jodoh, kemana-mana.."

Pada hari yang menarik ini, ketika saya memutuskan keberanian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, saya melangkahkan pulang dengan ringan.

-Selesai-
 

17.6.11

So here I am..

Saya paham bagaimana rasanya, teman sma saya yang berpacaran sejak sma meninggalkan pacarnya untuk menikah bersama teman kuliah saya.

Saya paham bagaimana rasanya, teman main saya yang mencoba ternyata tidak suka lalu meninggalkan pacarnya yang pada awalnya terlihat mentok.

Bahkan saya paham rasanya bagaimana rasanya imprinting dalam sinetron twilight saga.

So here I am..

Sampailah saya pada perasaan yang aneh. Kita bener-bener gak akan tahu apa yang kita rasakan esok pagi bukan? Hati-hati dengan hati, diam-diam bisa saja mengkhianati.

And who are you, anyway?



Adin, 23 tahun.
never sure about right or wrong,
but pretty sure about what she feels.
Related Posts with Thumbnails

Recent Comments

Search!

Loading...