Begini, alkisah ada sebuah taman bermain kanak-kanak di suatu kampus metropolis. Taman kanak-kanak ini berbeda dari kegiatan lainnya, sebut saja kegiatan lainnya itu politik kampus tahu kucing. Taman kanak-kanak ini menyenangkan, kegiatannya mudah:
bermain di taman.
Akhirnya, saya masuk ke sana, mendaftar ke taman kanak-kanak yang tersohor ini. Sebelum masuk, saya harus mengikuti rangkaiannya terlebih dahulu, ada bermain ayunan, ada panjat tali, ada main perahu-perahuan, ada juga masuk ke dalam lorong-lorong untuk menikmati dunia lain. Tapi, diluar itu semua, kami: saya dan pendaftar lainnya, harus melakukannya bersama-sama sehingga terbentuklah rasa cinta.
Saya cinta mereka. Mereka cinta sayakah, saya tidak tahu. Salah satu guru di taman kanak-kanak itu akhirnya bertanya pada saya apa yang saya cari di sana, saya jawab: rumah. Saya mencari rumah di sini. Taman kanak-kanak akan menjadi rumah buat saya. Dan waktu pun berlalu. Dan memang begitu.
Sebut saya murid yang nakal, sering membolos, kadang datang tak diundang, kadang pergi kalau dibutuhkan. Sesuka hati saya bermain. Tapi, saya tetap selalu mengamati. Tentu saja, bagaimanapun, ini kan rumah saya.
Suatu hari, saya muak. Saya merasa anak-anak di taman kanak-kanak ini terlalu dewasa. Tidak lagi seperti anak kecil yang melepas topengnya. Lihat itu si Ani yang dipikirkan hanya Ego saja. Lihat itu si Anu yang dipikirkan hanya kesalahan temannya saja. Lihat itu si Ino hanya facebook-an saja. Lihat itu si Ina yang dipikirkan hanya intrik saja.
Berapa orang di taman ini yang tertawa dari hati? Beberapa tenggelam dengan pikirannya, dan khayalannya, dan mimpinya. Tidak ada apresiasi terhadap hal baik di sini. Atau ada, tapi saya hanya terlalu sering pergi? Tapi lalu, mengapa selalu ada bisik-bisik di belakang? Atau banyak murid yang bertingkah laku A karena ia ingin kelihatan A, bukan karena ia ingin bertingkah laku A. Tidak ada kebebasan lagi, bukan. Semua seolah membentuk opini publik. Hey, dimana keterbukaan?
Tidak tahulah, saya cinta rumah itu, tapi kadang berada di sana membuat saya penat. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Baru kemarin, baru sekali, saya mendengar kabar, ibu kampus metropolis tertarik pada taman kanak-kanak ini dan meminta menjadi salah satu murid di sini. Loh, ibu kan sudah tua? tanya yang lain. Makanya, tidak apa-apa ya, jadi tidak udah ikut serangkaian acara anak-anak dulu ya untuk jadi murid? kata si ibu kampus.
Mungkin ibu kampus itu terlalu hebat, terlalu menguntungkan di mata taman kanak-kanak dan pendirinya, sehingga dari suatu rapat panjang, diterimalah ibu kampus itu menjadi murid spesial. Untungnya apa? pasti dia menguntungkan. Untung besar. Entahlah. Saya tidak mengerti. Tidak tahu menahu.
Ibu kampus itu tahu tidak permainan legendaris kita? Belum, tidak perlu tahu. Lalu bagaimana Ibu kampus itu bisa merasa memiliki taman kanak-kanak ini, merasa ini rumahnya juga? Tidak perlu, yang penting dia menguntungkan. Bagaimana bisa, jika tidak ada ikatan? Sudahlah jangan banyak omong, pokoknya pasti dia menguntungkan.
Oh, ya selamat mencoba menunggangi, meski sesungguhnya begitu kabur siapa ditunggangi siapa.
Hey, mengapa lama-lama ini semua terdengar seperti politik kampus tahu kucing penuh intrik?
Benarkah ini masih taman kanak-kanak yang sama?
"Taman yang paling indah, hanya taman kami.
Taman yang paling indah, hanya taman kami.
Tempat bermain, berteman banyak,
itulah taman kami taman kanak-kanak."
Maaf kalau terdengar agak kasar. Tapi perlukah saya meminta maaf? Rasanya tidak. Anggap saja ini fiktif, meski saya senang kamu dan kamu membacanya.






















